News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

OPTIMALISASI PROGRAM DINIYAH CETAK GENERASI QUR’ANIYAH

OPTIMALISASI PROGRAM DINIYAH CETAK GENERASI QUR’ANIYAH

WP_20190605_022.jpg

Artikel.Dutasumsel.com

Salah satu program terobosan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ogan Ilir yang patut diacungi jempol dan dicontoh oleh kabupaten/kota lain di Sumatera Selatan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT adalah program Satu Sekolah Satu Diniyah dalam Bahasa Arab Madrasah Wahidah Diniyah Wahidah atau bahasa Inggrisnya One Scholl One Diniyah. Program tersebut telah berjalan lebih kurang tiga bulan lamanya. Berawal dari program Satu Desa Satu Diniyah yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir guna mencapai visinya untuk Mewujudkan Ogan Ilir yang Gemilang Berlandaskan Islami, Berdaya, dan Berbudaya. Selain itu, program Satu Sekolah Satu Diniyah ini diharapkan dapat mendukung motto Kabupaten Ogan Ilir sebagai kota santri. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Bupati Nomor 54 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Jalur Pendidikan Non Formal Madrasah Diniyah.

Awal mulanya program madrasah diniyah ini sebagai proses belajar mengajar yang dilakukan oleh kelompok belajar di desa/kelurahan berbasiskan Islam yang bersifat non formal yang bertanggung jawab kepada Kepala Desa untuk menambah kompetensi anak-anak didik ke arah yang lebih baik. Dengan tujuan untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada anak-anak untuk mengembangkan kehidupan sebagai warga muslim dan warga negara Indonesia yang beriman, bertaqwa, berakhlaq mulia, dan beramal shaleh. Adapun penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan, meliputi Al-Qur’an, Al-Hadist, Tajwid, Aqidah Akhlaq, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, Bahasa Arab, dan Praktek Ibadah. Program ini berfungsi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan tambahan Pendidikan Agama Islam, terutama bagi siswa yang belajar pada pendidikan dasar (SD dan SMP). Atas dasar inilah kemudian program diniyah ini diadopsi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ogan Ilir menjadi Program Satu Sekolah Satu Diniyah yang mulai dilaksanakan pada Tahun Ajaran 2019/2020.
Program Satu Sekolah Satu Diniyah

Program ini telah dijalankan dengan menyiapkan para Asatidz (Guru Tahfidz) yang mumpuni sesuai bidang atau kefasihan masing-masing. Sebelum dilkukuhkan sebagai Guru Tahfidz para calon asatidz tersebut terlebih dahulu diseleksi melalui rekrutmen yang diadakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ogan Ilir yang kemudian setelah dinyatakan lulus ditetapkan dan bertugas di sekolah mana. Tentu dengan hak dan kewajiban secara operasional yang melekat, termasuk pemberian honor yang akan diterima nantinya. Tugas dari para guru tahfidz tersebut diantaranya mengajar, membimbing, dan melatih siswa di sekolah bagaimana cara membaca al-qur’an sesuai ilmu tajwid, menghafal surat atau ayat-ayat pilihan, mengartikan surat atau ayat-ayat al-qur’an, serta mempraktekkan ibadah sehari-hari dengan baik dan benar. Sebagai contoh program diniyah yang telah dilaksanakan di beberapa sekolah yang ada di Kabupaten Ogan Ilir, seperti di SMP Negeri 1 Indralaya Utara, antara lain (1) Baca Tulis Al-qur’an dengan Metode Iqro’. Metode ini dilaksanakan dengan cara membaca huruf hijaiyahlangsung dengan tanda baca, seperti huruf Alif dibaca A, Ba dibaca Ba, Ta dibaca Ta, Tsa dibaca Tsa, Jim dibaca Ja, dan seterusnya berbeda dengan cara turutan di zaman dulu. (2) Baca Tulis Al-quran dengan Metode Tahfidz. Metode ini dilaksanakan dengan cara membaca sesuai dengan ilmu tajwid dipergunakan untuk mengetahui tempat keluarnya huruf atau makhroj dan sifat-sifat bacaannya sebagai proses mengulang atau menghafal dengan terang dan jelas. (3) Baca Tulis Al-quran dengan Metode Tahsin. Metode ini dilaksanakan dengan cara melafalkan kemudian menghafalkan surat atau ayat pilihan dalam al-qur’an secara tartil dan benar berdasarkan ilmu tajwid yang telah dipelajari bertujuan untuk memperbaiki, meningkatkan, dan memperkaya bacaan/hafalan al-qur’an.

Program diniyah di SMP Negeri 1 Indralaya Utara dilaksanakan setiap hari Jum’at siang setelah selesai melaksanakan sholat Jum’at yang dimulai dari pukul 13.00 sampai dengan 15.00 WIB. Siswa dibagi menjadi tiga kelompok besar sesuai dengan kemampuan membaca al-qur’an masing-masing. Kelompok pertama adalah Kelompok Iqro’ bagi siswa yang belum dan telah mengenal huruf hijaiyah tetapi belum lancar bacaannya. Kelompok ini dibimbing oleh Ibu Fitri Kartika, S.Ag., M.Pd.I. dan Bapak Ali Sobri, S.Pd.I. selaku guru Pendidikan Agama Islam di sekolah. Kelompok kedua adalah Kelompok Tahfidz bagi siswa yang telah mengenal dan lancar membaca al-qur’an khususnya mempelajari dan mendalami ilmu tajwid dengan benar. Kelompok ini dibimbing oleh Ustadz Abdillah, S.Pd.I. sebagai guru tahfidz yang dikukuhkan oleh Bupati dan ditugasi di sekolah. Kelompok ketiga adalah Kelompok Tahsin bagi siswa yang telah lancar membaca al-qur’an sesuai ilmu tajwid dan bacaannya dinilai baik dan benar. Selanjutnya menghafal bacaan surat atau ayat-ayat pilihan yang telah ditentukan dalam program diniyah ini, misalnya dimulai dari Surat Al-Fateha dan seterusnya yang dikaji dan diulang sampai siswa mahir dan faseh semuanya. Kelompok ini dibimbing oleh Ustadz Ali Hasan, L.C., M.Pd.I. dan Ustadz Agus Dwindra Putra, A.Md. selaku guru tahfidz yang ditugasi di sekolah.
Optimalisasi Program Diniyah Cetak Generasi Qur’aniyah

Program diniyah ini sedikit banyak telah membantu anak-anak mengenal huruf hijaiyah, mampu membaca, mengerti, dan memahami bacaan dengan cara mengaji, menghafal, kemudian mengkaji kandungan isi al-qur’an dengan sebaik-baiknya sesuai kemampuan siswa SMP. Tinggal bagaimana caranya program ini dioptimalkan semaksimal mungkin supaya tujuan yang diinginkan dapat tercapai, yakni mewujudkan generasi Ogan Ilir yang mencintai al-qur’an (mencetak generasi qur’aniyah). Optimalisasi dalam hal ini berarti suatu proses untuk mencapai hasil yang ideal atau optimum dari program yang sudah dijalankan. Artinya jika Program Satu Sekolah Satu Diniyah ini telah dilaksanakan di beberapa sekolah yang ada di Kabupaten Ogan Ilir, hendaknya diawasi dan dievaluasi dengan baik dan benar. Supaya program yang sudah dirancang baik akan memperoleh hasil yang baik juga dengan melibatkan komite sekolah dan stakeholders di masyarakat.

Optimalisasi program Satu Sekolah Satu Diniyah sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter di era digitalisasi ini sangatlah dibutuhkan oleh kita semua, termasuk orang tua siswa. Hal ini untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang ilmu-ilmu agama, khususnya ilmu al-qur’an kepada generasi milenial yang lebih gandrung membuka gawai daripada membuka kitab suci. Padahal sejatinya anak-anak usia pendidikan dasar ini masih potensial dan cepat dalam menerima materi atau menghafal kandungan isi al-qur’an. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW bahwa “beribadah kepada Allah Azza wa Jalla seakan-akan engkau melihat-Nya dan seandainya engkau tidak dapat melihat-Nya, engkau yakin bahwa Dia melihatmu” (Hadist Riwayat Al-Bukhari dan Muslim). Hal ini menekankan bahwa apabila program diniyah ini akan berhasil mencapai tujuan, maka kesadaran dan kepedulian menjadi ujung tombak sebagai penentunya.

Kesadaran merujuk pada kemauan siswa untuk belajar mengaji dengan sungguh-sungguh tanpa paksaan dari siapapun, sedangkan kepedulian ditujukan kepada “kita semuanya” akan pentingnya ilmu atau pendidikan agama bagi anak-anak kita (anak kandung sendiri atau anak didik di sekolah) sebagai generasi penerus bangsa. Berbagai serbuan kemajuan teknologi dan informasi begitu kencangnya di abad 21 ini menandai era digitalisasi. Ada membawa dampak positif, tetapi tak sedikit negatif (mudhoratnya) bagi generasi muda. Dampak positif misalnya bacaan dan audio al’qur’an dapat dibaca atau didengar langsung kapan saja dan dimana saja dalam Al-Qur’an Digital. Namun, apakah mungkin anak-anak muda tersebut mau dan terbiasa untuk membuka atau mendengarkannya? Sementara dampak negatifnya adalah gampang sekali anak-anak menyaksikan konten, berita, bahkan tayangan yang tidak layak ditonton. Inilah yang harus kita tangkal sedini mungkin dengan ilmu agama terutama di sekolah, sebelum generasi muda kita lumpuh total.

Peribahasa mengatakan ilmu tanpa agama buta, sedangkan agama tanpa ilmu lumpuh. Sebagaimana Ary Ginanjar Agustian dalam Bukunya berjudul ESQ (Emotional Spritual Quotients) Jilid I disebutkan bahwa jika kita ingin generasi muda sebagai penerus bangsa mampu melanjutkan negeri ini dengan baik, maka mental building yang lebih diutamakan. Dipertegas Q.S. Al-Hajj Surat 22 ayat (46) yang artinya tidaklah mereka mengembara di muka bumi sehingga mereka mempunyai hati dengan itu mereka mengerti, dan mempunyai telinga yang dengan itu mereka mendengarSungguh, bukanlah matanya yang buta, tetapi yang buta ialah hatinya, yang ada dalam (rongga) dadanya. Program Satu Sekolah Satu Diniyah ini harus lebih dioptimalkan sebagai solusi dalam membekali dan membentengi siswa di era digitalisasi. Optimalisasi ditujukan pada kegiatan, waktu, operasional, insentif guru tahfidz dan guru agama, target pencapaian, pengawasan, dan evaluasi program keseluruhan. Kita resapi dan hayati ayat tersebut dengan tindakan yang baik. Selagi ada waktu mari bersama mengaji, mengkaji, dan mengajarkan Al-Qur'an selamanya. Semoga program ini dapat mencetak generasi qur'ani di Kabupaten Ogan Ilir sebagai kota santri khususnya dan generasi muda di Indonesia pada umumnya. Wallahua’lam.

Artikel Oleh Husnil Kirom  , M.Pd.
(Pendidik di SMP Negeri 1 Indralaya Utara)

Redaksi.www.dutasumsel.com

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar